Sejarah Masuknya Agama Katholik di Babo

Bagikan berita ini

Bintuni-sorotpapua.co -Sejarah misi Katolik di Papua dan Papua Barta termasuk Babo sangat kompleks, karena sejarah ini merupakan pertemuan dua dunia yaitu, dunia barat (Katolik Belanda) yiatu, MSC (Missionaris Sacratissimi Cardis) Ordo Fransiskan (OFM) dan Ordo Santu Agustinus (OSA) yang semuanya dari Belanda dengan dunia orang Papua, dan kepada orang Papua bukan hanya diperkenalkan sebuah agama yang baru, tapi juga sebuah budaya baru

Misi Katolik sampai di Babo juga sangat kompleks karena Zending atau Protestan yang sudah berkarya 50 tahun di tanah Papua, sehingga hampir seluruh wilayah Papua dan Papua Barat sudah diklaim di segi yang lain harus meminta izin Gubernur Jenderal di Batavia dengan persetujuan Residen Ternate yang membawahi Niew Guinea bagian barat

Arsip arsip yang terfokus pada masing masing tarekat atau Ordo agak menyulitkan penulisan sejarah misi di Papua termasuk Babo. Kalau mencari arsip Ordo atau pimpinan Ordo (Bestuurarchief) khusus MSC ada Tilburg, OFM di Utrecht dan OSA di Einhoven, sehingga di Papua sendiri taka da data atau arsip yang lengkap.

Oleh karena itu, misi Katolik di Babo memang ada, tapi sumbernya sangat sedikit. Maka data ini berdasarkan buku petunjuk dan pedoman Keuskupan Sorong – Manokwari 10 Januari 1993 dan Sorong 1 Juni 2002. Sumber lain dari Jan Sloot yaitu, Fransiskan masuk di Papua, judul aslinya Nederlandse Franciscanan In Papua 1937 – 1987. Juga beberapa arsip yang masih tersimpan saat menjadi Pastor Paroki Santu Lukas Babo 1998 – 2001.

Secara singkat dapat disampaikan bahwa,: Misi Katolik di Babo masuk melalui Fak-fak, sebagaimana kita ketahui bahwa, tahun 1892 Pastor Cornelis LeCocg d’Armandville, SJ mendarat di Sekru Fak-fak dan tingal 3 tahun dan membangun Pos misi di Air Besar.

Selanjutnya, tanggal 27 Mei 1896 dalam perjalanan pulang mampir di Kipia Pantai Mimika (Kokonau) beliau meninggal. Ada dua versi ceritera, versi pertama menyatakan Pater dibunuh oleh masyarakat setempat. Versi kedua, (Ordo Fransiskan), Pater bukan dibunuh melainkan tenggelam dihantam ombak yang ganas dipantai Kipia, Mimika.

Sehingga saat itu karya misi Katolik macet atau vakum selama 12 tahun , kemudian 1904, Misionaris Hati Kudus (MSC) memuliai karyanya di selatan Papua yaitu, Merauke dan Fak-fak tahun 1930 Pastor Adrian de Jong MSC sebagai Pastor pertama yang menetap di Fak-fak dan mendirikan Pos misi Katolik.

Pastor de Jong mengelilingi Fak-fak dan tiba di Babo tahun 1931, suatu tempat kecil  pada pantai selatan Teluk Bintuni. Dari Babo, Pastor de Jong, MSC mengunjungi Maneboei. Dan datanglah Pastor C. Meevwese, MSC membantu Pastor de Jong dan bertempat tinggal di Babo, waktu itu tahun 1935 mulai NNGPM, (Nederlandse Nieu- Guinea Petroleum Maatschappij)- Belanda) menjadikan Babo sebagai pusat Eksplorasi minyak. Saat itu, lapangan terbang dibangun, banyak rumah rumah pegawai, d rumah sakit dengan laboratoriumnya, bengkel kerja, dan pusat tenaga listrik, waktu itu sudah ada ratusan orang Kei, pada waktu itu, senggang atau lowong membangun juga sebuah Pastoran untuk Pastor mereka.

Pada tahun 1937, tibalah Pastor Ph, Tettro OFM mengunakan pesawat terbang tiba di Babo dan terjadi penyerahan tugas dari Pastor Meeuwisse kepada Pastor Ph Tettro OFM. Tettro dijuluki Pastor coba coba” karena keberanianya mengambil resiko dalam pelayaran menyebrang Teluk Bintuni menuju Meneboei. Namun, suatu saat tahun 1938 Pastor kehilangan keberanianya karena pada saat menyebrang cuaca buruk, hujan lebat dan angin kencang, sehingga dia menulis dalam memorinya “Saya sama sekali kehilangan keberanian Saya”.

Pimpinan OFM yaitu, Pastor Van Egmon dan Pastor Louter menumpang kapal milik pemerintah dari Fak fak ke Babo, kesempatan ini dipergunakan untuk berkeliling mengunakan speedboat bantuan perusahaan NNGPM. Menuju ke Taniba, lalu ke Mariedi ditempuh dengan berjalan kaki selama 7 jam. Sepatu basah, tubuh penuh lumpur, dan hari sudah gelap tapi masih cukup jauh dari mariedi, kami mempunyai lentera tapi berjalan kaki melewati hutan yang sulit.

Pada tahun yang sama, 1937 datanglah Pastor Van Leewen, OFM tinggal bersama Pator Tettero. Dan Pastror Van Leewen mengarahkan perhatian pada umat lewat orang orang Kei dan orang orang China yang bekerja di perusahaan yang tinggal di sekitar perusahaan NNGPM.

Pada waktu itu, wilayah Bintuni (Maniboei) dilayani dari Babo. Masih pada tahun 1937 wilayah Papua Barat (west Papua) bagian utara oleh MSC diserahkan kepada OFM. Pada tahun 1953 OSA datang dan bergabung dengan OFM melayani Papua Barat bagian Utara Jayapura, Biak, Manokwari, Sorong, Fak-fak dan Kaimana.

Dalam pelayananya, Pastor tettero dsierang malaria walau sembuh tapi fisik lemah, sehingga perusahaan NNGPM) menulis surat kepada Pimpinan Ordo (Superior OFM) bahwa, Pastor ini tidak bisa bertahan terhadap keadaan tropis, dan lebih baik kembali ke Belanda. Sekalipun demikian, Pastor tettero terus berkeliling (tornee), sehingga kampung kampung mulai Nampak berkembang. Kampung Mabriema (Fruata) menjadi kampung kesukaan  Pastor Teetero. Dia membangun rumah sederhana sebagai Pastoran dan mulai mempelajari bahasa daerah (Bahasa Irarutu)(…)

1 Komentar

  1. Tahun berapa ka agama katolik masuk di mogotiraku?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *