KEDEWASAAN POLITIK TELUK BINTUNI TERUJI

Bagikan berita ini

Oleh Frans Lusianak,Politisi Muda Teluk Bintuni

 

Bintuni,SorotPapua.net- Menyimak berbagai postiingan para pengamat politik di media sosial yang bagaikan jamur tumbuh dengan cepat  di Kabupaten Teluk Bintuni. Namun hal ini membuat saya sangat bangga pada Teluk Bintuni yang walaupun memiliki beragam suku dan agama namun masih tetap berada pada tatanan poitik yang damai.

Bicara politik, maka mereka yang masih dini pun dapat berargumen. Namun banyak yang tidak menyadari bahwa untuk menjadi politisi memiliki tingkat wawasan yang tinggi melalui jenjang pendidikan dan organisasi yang matang.

Fenomena kontestasi pilkada dengan Bakal Calon Pemimpin Publik Teluk Bintuni, tidak luput dari gonjang ganjing para politisi yang dengan sangat terbuka dan frontal memberikan argument, baik Argumen yang dapat dipertanggungjawabkan maupun argument asal bunyi yang tidak berdasar pada data yang valid.

Menyimak semua argument para politis muda Teluk Bintuni, yang mencoba menggiring opini publik pada satu tujuan politik yang juga masih abu-abu karena tidak mampu menyajikan tawaran dan tujuan yang riil dengan baik tentunya membuat masyarakat hanya membaca dan menonton dagelan (cerita lucu dan kocak) sehingga masyarakat bertanya-tanya ada apa di balik semua opini tersebut yang terkesan seolah-olah Kabupaten Teluk Bintuni akan runtuh….?

Membaca teori politik Pemerhati Sosial Politik Fren Lutruntuhluy, S.Pd yang tinggal di Jakarta, tentang Kencenderungan Pemimpin Teluk Bintuni Berubah sangat berbanding terbalik dengan perjalanan peliputan dan wawancara sahabatku Fren ini.

Mengapa?

Pertama :

Sebagai Pemerhati sosial Politik, anda harusnya melihat sisi lain dari Pemimpin Publik yang catatannya telah berhasil menyelamatkan Anak Cucu 7 Suku dan masyarakat pendatang di Teluk Bintuni dari Pandemi Covid-19 dengan pencapaian Zona Hijau yang artinya Wilayah Teluk Bintuni telah aman dan bebas dari virus yang mematikan itu, yang tidak hanya menyerang Indonesia tetapi telah menjadi Pandemi Global yang mengguncang dan merubah aspek-aspek kehidupan dunia. Namun dengan kejadian konvoi sebagai bentuk euforia masyarakat pada tanggal 17 Juli 2020 yang tidak diizinkan oleh Satgas Covid-19 Teluk Bintuni dan bahkan tidak mendapatkan izin keramain dari pihak Kepolisian karena aktivitas calon Pemimpin Publik yang tidak mengindahkan bahkan melanggar Protokoler Kesehatan maka secara tidak langsung telah melanggar kebijakan dan aturan pemerintah baik pusat maupun daerah karena dapat menebar bencana di Teluk Bintuni.

Kedua :

Menyimak rekaman Konverensi Pers salah satu pasangan Bakal Calon yang sangat mengangetkan bahwa akan memberikan kesempatan terakhir pada siapa saja yang menebar isu keluarga dan menyerang privasi sehingga apabila terulang lagi maka hal ini akan menjadi pelaporan polisi dengan alasan pencemaran nama baik.

Sebagai calon pemimpin publik dan mungkin akan menjadi pemimpin dikemudian hari tentunya harus siap dengan segala konsekwensi sosial bahwa seluruh rekam jejak baik organisasi maupun pribadi akan dipertontonkan dan menjadi konsumsi publik. Jadi jangan merasa kecil hati atau tersinggung karena akan menjadi isu yang berkembang di masyarakat.

Sebagai pemerhati Sosial Politik Kampung, saya sangat yakin bahwa opini yang dibangun dengan berbagai argument di media yang tidak berdasarkan data yang bertujuan menggiring opini masyarakat, tidak akan mudah membalikan keyakinan dan kepercayaan masyarakat Teluk Bintuni terhadap Bupati dan Wakil Bupati sekarang dengan keberhasilan yang dicapai dalam kurun waktu 4 tahun dalam menitik beratkan pembangunan pada   Sumber Daya Manusia, dengan mengucurkan Dana Padat Karya senilai 1 Milyar setiap tahun bagi ke 24 Distrik, Bantun Modal Usaha sebesar 5 juta Rupiah bagi Mama Asli 7 suku dan Papua pendatang dari alokasi dana 5 Milyar Rupiah setiap Tahun, Bantun Pendidikan Bagi Mahasiswa asal Bintuni…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *