Bupati, Kritik Boleh Tapi Jangan Yang Berbau Sara

Bagikan berita ini

Bintuni,SorotPapua.net-Sejak keran demokrasi terbuka pascareformasi tahun 1998 kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat menjadi hal yang lumrah.Bahkan kritikan kepada penguasa adalah hal yang biasa dalam berdemokrasi.

Kendati demikian, pemerintah dan semua elemen manapun harus memahami perbedaan kritik, penghinaan atau ujaran kebencian.Kritik juga diperlukan agar pembuat kebijakan bisa menyadari kekuranganya, tapi kalau kritikan yang sudah mengarah ke pribadi, ras, suku dan agama, maka rananya sudah berbeda.

Bupati Teluk Bintuni,Ir.Petrus Kasihiw.MT saat diminta tanggapanya terkait dugaan ujaran kebencian dilakukan salah satu akun facebook baru baru ini, menurutnya,di erah kepemimpinan kami, siapaun boleh memberikan kritik, asal jangan yang bersifat sara.

“Contohnya, kalau kritikan itu berkaitan dengan saya tapi pasti yang merasa bukan saya sendiri, karena sudah masuk dalam ranah sara,itu sudah menyangkut orang banyak,”ujar Bupati.

Untuk itu,saya minta diproses hukum agar jadi efek jerah, dan Kepolisian harus tegas sehingga kasus seperti itu tidak terjadi lagi.Saiapapun yang memposting dan menyebarkan ujaran kebencian berbau sara harus dituntut hukum.

Namun, saya berharap kita semua harus melihat hal ini dengan bijak agar jangan terjadi keretakan ditengah masyarakat.Kepada masyarakat tujuh suku mari sikapi ini dengan baik.Intinya kita serahkan kepada Kepolisian, siapa yang salah dihukum agar semua puas,”pungkas Bupati(ped)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *